Kamis, 04 April 2019

senja yang kutunggu

Senja Dibawah Langit Monas

Sebuah aksara yang kutulis yang mengisyaratkan sebuah harapan yang selama ini aku tunggu. kamu orang terdekatku yang sangat aku cintai.
_Muar Senja




Mentari sedang dalam masa cantik-cantiknya.Sinarnya berwarna jingga dengan langit yang masih mempertahankan warna birunya dan semilir angin yang terasa damai sekali. Iya, sebuah suasana yang khalayak biasa menyebutnya dengan SENJA. 
Kebanyakan orang menyukai senja. Apalagi jika menikmatinya bersama orang tersayang, duduk bersama ditengah rerumputan hijau atau diatas kursi panjang dengan warna langit yang kemerah-merahan.

Dira salah seorang gadis yang sedang asyik menikmati matahari yang sedang pamitmenuju malam.Dia adalah gadis polos sederhana yang selalu merindukan kehadiran seseorang. Selalu menikmati kesendirian dan menjalani kehidupan penuh dengan keseriusan. Setiap waktu ia pergunakan untuk mengejar impian dan menyisihkan sedikit waktu sorenya untuk mencari kebahagiaan lain.

Tak perlu repot-repot Dira mencari tempat untuk melepas penat. ia tinggal duduk di tepi lapangan setiap sore sambil menikmati permainan anak-anak kecil bermain bola yang riuh dan senangnya. Ditambah sore ini hujan sedang tidak turun dan langit sedang sangat bersahabat rupanya.
Dira meluruskan kakinya dan berbaring. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali lalu memejamkan matanya. Tak lupa ia menyetel musik kesukaannya. Tangannya ia silangkan ke belakang sebagai alas untuk kepalanya, pandangannya ia tujukan keatas langit dan kakinya ia goyang-goyangkan

  “hem.... damai sekali rasanya, andai tiap sore begini pasti bahagia hidupku” celotehnya sambil mengembuskan nafasnya pelan-pelan.
Suasana sore ini memang begitu menentramkan,apalagi minggu-minggu ini ia disibukan dengan tugas kuliah yang terus berdatangan secara bergilir. Dira merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Swasta di Purwokerto. Ia sekarang baru masuk semester 2, mahasiswa yang dikategorikan masih baru memang namun ia dikenal cukup aktif dalam kegiatan kampus.

 Sesekali ia melihat layar handphone untuk mengecek chat masuk yang terus berdering dari tadi namun tak sempat ia buka. Ia mengusap layar handponenya
 ”yaelah chat grup semua... sama sekali ga ada chat personalyang nanyain aku nih,,“ Dira mendengus kesal.

Dira merupakan aktivis kampus yang super sibuk pantas saja jika handphonenya penuh dengan file dari kegiatan di kampusnya, mulai dari sosial medianya, galerinya bahkan semua kontaknya dipenuhi teman-teman dari kampusnya.yaps dan itu hanya sekedar teman organisasi Dira.

Tak beberapa lama dari selang waktu tersebut tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkannya ”mbak lagi ngapain?’’ sontak membuatnya bangun dan mematikan musiknya. “ emhh.. iya ini lagi nikmatin suasana aja. ” kata Dira sambil tersenyum kepada laki-laki yang menyapanya tersebut.
“ oh.....boleh duduk disebelah mu ngga?, oh ya kenalkan nama ku faiz!” laki-laki itu mengulurkan tanganya sembari ikut duduk disebelah Dira.
Terlihat laki-laki itu mengibas tempat yang akan diduduknya.
Dira membalasnya dengan sebuah senyuman dan sedikit tertegun melihat kedatangan pria itu. Namun Dira tak membalas uluran tangan dari laki-laki yang mengaku Faiz tersebut.

“mbak... haloow...?’ faiz melambai-lambaikan tanganya ke muka Dira.
 ‘kok malah ngelamun sih!” lanjutnya.
“ntar dulu deh kayaknya aku kenal kamu, Iyakan.!! kamu faiz temen SMA aku kan? Faiz Nugroho? “. Dira menggoyang-goyangkan pundak faiz “aku gak lagi mimpi kan?” lalu ia menepuk-nepuk pipinya sendiri .
“hmmm baru sadar nih” faiz tersenyum dan memegang tangan Dira. “iya ini aku faiz” jawabnya.

Mereka memang sahabat saat SMA dulu, dan sudah lama tidak bertemu karena Faiz mengambil kuliah di luar kota.
Dira masih tidak percaya akan kedatangan Faiz sore itu, ia masih saja diam sambil terus memandangi wajah faiz.
“nah kan masih aja kayak dulu, sukanya bengong terus.” sambung Faiz.
“dasar pesek!”faiz memejet hidung Dira
“ih.... Faiz,,, stop it” Dira bangun dari lamunanya. Dan mengibas tangan faiz.
”kamu apa kabar Dir?” tanya Faiz dengan lembut.
” aku baik iz,,,,,” jawab Dira.

“kamu ngelamun terus kerjaannya, nanti kesambet loh Dir,, aku gak mau nolongin kamu loh iya klo kamu kesurupan . Mending sih setannya baik, klo yang masuk setan jahat gimana bahaya aku ntar kamu bunuh gimana?” tawa faiz terbelagak..
Dira ikut tertawa “hahaha..... Faiz please deh, sikap aneh kamu tolong dikurangin dikit aja,,, ok!’.celetuk Dira mendorong jidat Faiz pelan.
 “aku kaget Iz, kok kamu tiba-tiba disini?”tanya Dira heran
“sebenernya aku tuh udah lama di rumah, terus aku juga udah sering kesini tapi kamunya aja seringnya gak ada. Eh.. pas banget sore ini aku liat kamu kaya orang gila disini sambil tiduran. hahaha” jawab Faiz sembari mengejek Dira.

“aapaan sih.. orang secantik ini dibilang orang gila. Ngaca deh,,” Dira menegaskan kata-katanya. “aku tuh lagi nikmatin senja,,biar hati sama fikiran aku tuh seger kembali dari tugas-tugas kuliah yang buat aku jenuh banget tahu” keluh Dira dengan pandangan kosongnya ke langit.
“oh gitu..” tangan Faiz memegang bahu Dira
 “jadi sejak kamu kuliah, jadi penyuka senja nih,,,” Faiz memberikan senyuman manisnya kepada Dira
.”iya... soalnya senja itu pengganti liburan buat aku, hehe” Dira menyeringai tak mau kalah debat dengan Faiz.
.”huh dasar ngomong aja gak ada duit buat liburan!” ejek Faiz.
“iya udah deh terserah lu,,, lagian dateng-dateng ngejek aku mulu sih” Dira memasang wajah cemberut”.
 “haha iya deh iya Dira cantik, jangan ngambek gitu dong kan aku cuma bercanda”.

 Langit semakin menampakan warna indahnya saja, seperti mengerti akan dua insan yang sedang menikmatinya sore ini. Ramai anak-anak yang sedang bermain bola semakin lama semakin hilang kedengaranya. Tersisa Faiz dan Dira yang masih tetap nyamanya berada di tepi lapangan. Mereka masih saja asyik berbincang bersama, melepas rindu karena telah lama tidak saling temu.
  Faiz lalu berdiri dan mengatakan”apa sih indahnya senja?’ tanyanya dengan lugas. “ Aku rasa semua langit sama aja...” faiz mendongak keatas.

Dira kemudian ikut berdiri “ Faiz ... semua langit memang terlihat sama warna biru. Tapi Coba deh kamu lihat di sebelah barat”  
Dira menunjukan  kearah matahari tenggelam.
“cuma warna biru dan sedikit orange” faiz menoleh ke arah yang ditunjukan Dira.
“indah kan warna langitnya, itu aja pas kamu memandangnya satu kali, kalo kamu terus pandanginya sampai kamu melihat warna orange itu mengisi penuh langit ,,itu jauh lebih indah dari ini Iz...” jelas Dira kepada Faiz.

Dira terus memandangi langit sambil tersenyum dan menghirup napas dalam-dalam.
“memang sih senja itu indah, tapi indahnya cuma sementara, senja emang bikin hati kita tenang, damai, tentram saat memandanginya tapi tetep aja nantinya warna yang ia tunjukan akan hilang. Terus berganti dengan sebuah warna hitam gelap.” sambung faiz sambil memasukan kedua tangan ke saku jaketnya dan menoleh kearah Dira.
Dira tersenyum tipis lalu ia duduk dan menghembuskan napas dengan pelan.
“faiz... justru senja itu ngajarin kita bahwa semua keindahan didunia nyata ini cuma sementara,,” sambung Dira
 “kita diajarkan buat jangan terpatok dengan sesuatu yang indah, senja juga menyadarkan kita bahwa terang tak selamanya menyinari,ada saatnya ia harus pergi dalam waktu yang telah ditetapkan atasnya untuk berganti dengan malam yang juga mengisi waktu yang telah ditetapkan juga”. jelas Dira,
“tapi aku gak suka malam Dir, ia gelap, tidak ada cahaya yang terang yang menyinari bumi, menyisakan sunyi, hawa dingin dan sepi selalu saja menemani”sanggah faiz sambil ikut duduk bersama di sebelah dira dan menghadap Dira.

Dira menggeleng-gelengkan kepalanya” kamu tuh harusnya bersyukur sama Tuhan karna udah menciptakan malam. Kamu tahu malam itu memberikan kesempatan pada bintang yang cahayanya gak begitu terang, eh malah kamu membencinya.”
“apa yang perlu kita syukuri”. ketus Faiz.”mau bagaimanapun aku tetep membenci malam”. faiz menguatkan pendapatnya.

Dira kemudian memandang wajah Faiz, menatap ke dua bola matanya. Dan menyipitkan matanya seperti menerawang jauh di dua bola mata Faiz.
Faiz tertegun melihat perlakuan Dira. Jantungnya berdegup kencang dan pandangan matanya tidak bisa lepas dari Dira. Ia merasa seakan ada yang salah pada dirinya. Darahnya terasa mengalir lebih kencang, badannya terasa dingin.”Dir,.. andai engkau tahu kamu itu berharga untuku,,, “ hatinya bergumam.

“woi......” gentak Dira pada Faiz yang sontak membuat Faiz sadar kembali dan mengalihkan pandangannya ke langit.
“ih... Dira bkin kaget aja?” jawab Faiz.
Dira tertawa dengan lepasnya dan terbahak-bahak akan perlakuan Faiz kepadanya tadi. “sial,,, aku kena deh sama kamu” ketus Faiz.
 “jangan baper iz,,,hahaha”. ejek Dira. “yee.... siapa yang baper. GR luh,,,,” Faiz meyanggah.

Mereka masih melanjutkan perbincangannya, Semua hal mereka perbincangkan mulai dari soal kuliahnya, kehidupan Faiz di luar kota dan kejadian-kejadian lucu dan mengesankan tentang Dira dan Faiz .

Dalam canda dan tawa mereka ditemani SENJA yang kian pamit untuk pergi. Dua insan yang menikmati hidupnya Hingga langit telah mengubah warnanya menjadi gelap dan hari berganti menjadi malam. Senja telah hilang dan rindu tetap mereka simpan, tuk nanti mereka sampaikan pada Tuhan, saat malam memelukan gulita ditiap doa yang mereka pinta.






senja yang kutunggu

Senja Dibawah Langit Monas Sebuah aksara yang kutulis yang mengisyaratkan sebuah harapan yang selama ini aku tunggu. kamu orang terde...